Apa itu Kesesatan Berpikir (Logical Fallacy)?

Aristoteles menyusun berbagai kategori logika dan memperkenalkan beberapa bentuk kesesatan berpikir seperti petition principii (berpikir sirkuler) dan ad hominem (menyerang pribadi lawan). Ia mengkaji dan mengklasifikasikan berbagai jenis kesesatan berpikir dalam bukunya yang berjudul Organon. Aristoteles juga memandang kesesatan berpikir adalah kesalahan dalam dialektika atau retorika yang menghambat seseorang mencapai kebenaran. Tokoh lain seperti Betrand Russell dalam bukunya (Sejarah Filsafat Barat), juga menekankan bahwa kesesatan berpikir seringkali berbahaya dalam argumen politik dan sosial. Menurutnya (Russel), sesat pikir dapat digunakan untuk memanipulasi opini publik dan menghalangi diskusi yang rasional. 
    Sedangkan dari sudut pandang yang sedikit berbeda, Carl Sagan dalam bukunya The Demon-Haunted World, menjelaskan pentingnya berpikir kritis dan menghindari kesesatan berpikir dalam mengevaluasi klaim-klaim yang luar biasa. Sagan memperkenalkan apa yang dikenal sebagai baloney detection kit untuk mengenali kesesatan berpikir.
    Secara umum, logical fallacy atau kesesatan berpikir adalah jenis kesalahan dalam proses berpikir yang menyebabkan proses berpikir yang menyebabkan suatu argumen menjadi tidak dapat dipercaya, tidak valid atau cacat.  Kesesatan ini biasanya terjadi karena alasan yang tampaknya masuk akal, tetapi sebenarnya keliru dalam logika. Tradisi pemikiran para filsuf sejak Yunani kuno memicu perkembangan penelitian kesesatan berpikir.
    Ada dua kategori utama kesesatan berpikir, yakni kesesatan formal dan kesesatan informal. Kesalahan formal merupakan sesat pikir yang tidak berkaitan dengan tata bahasa dan konteks sebuah argumen. Namun lebih pada pola/struktur argumen yang diucapkan. Contohnya begini, "Semua anjing adalah hewan, semua kucing adalah hewan, maka semua anjing adalah kucing".
    Sementara itu, kesalahan Informal adalah sesat pikir akibat konten dan konteksnya, bukan struktur argumennya. Satu contoh kesalahan Informal dalam argumen ad Hominem, "Saya tidak percaya pendapatnya tentang perubahan iklim, karena dia bukan ilmuwan dan tidak pernah lulus kuliah".
    Apakah kesesatan berpikir terjadi karena kurang cerdasnya manusia? Sayangnya tidak juga. Ada orang yang memang menggunakan kesesatan berpikir menjadi metode bicara untuk menipu lawan bicara dengan berbagai tujuan, misalnya ingin menang atas lawan bicaranya. Begini bunyinya "Apa kamu serius mau mendengarkan argumen dari dia? Dia kan sudah gagal dua kali dalam bisnisnya. Jelas-jelas dia tidak tahu apa yang dia bicarakan." Pernyataan ini menggunakan kesesatan berpikir ad hominem untuk mendiskreditkan lawan bicara dengan menyerang kegagalan pribadinya, alih-alih membantah isi argumen yang sebenarnya. Tujuannya adalah menipu atau memenangkan argumen dengan cara yang tidak jujur.
    Penyebab kesesatan berpikir lainnya dapat kita temukan pada orang yang kerap terjatuh dan kurang bisa menyusun argumen (premis) maupun menarik kesimpulan, singkatnya orang yang berbicara tidak sistematis. Seperti kurangnya kosa kata bahasa yang bersangkutan ingat, kurangnya pemahaman menyusun kalimat. Namun perlu digaris bawahi, tidak semua kesalahan dalam menyusun kalimat cacat logika, biasanya terjadi karena struktur kalimat tidak efektif atau tidak sesuai dengan aturan tata bahasa, meskipun maknanya masih dapat dipahami. Contohnya seperti ini "Karena saya lapar, maka saya makan". Penggunaan kata "karena" dan "maka" secara bersamaan kurang tepat. Salah satu sudah cukup. Seharusnya begini "Karena saya lapar, saya makan." atau "Saya lapar, maka saya makan". Apakah contoh itu cacat logika? Tidak.
    Lalu jenis dan contoh sesat pikir dalam kehidupan sehari-hari bagaimana? Sekurang-kurangnya ada 10 jenis kesalahan berpikir yang mudah dijumpai di sekitar kita. Apa sajakah itu?
1. Slippery Slope
    Sesat pikir yang diakibatkan penyusunan argumen sebab-akibat yang tidak tepat. Cara berpikir ini biasanya terbentuk "Jika P maka Q, jika Q maka R, dan seterusnya". Akibatnya adalah kesimpulan yang lahir akan diyakini sebagai kebenaran final yang seharusnya seperti itu. Contoh "Kalau kamu kuliah S-3, maka kamu akan dihormati oleh orang lain, jika kamu dihormati oleh orang lain, kamu akan lebih percaya diri, jika kamu percaya diri, kamu akan hidup lebih bahagia". Padahal, belum tentu. red.

2. Strawman
    Suatu keadaan di mana saat dua pihak sedang berbicara, pihak yang lain menyimpulkan argumen orang lain secara salah dan menimbulkan kesalahpahaman. Contoh "Aku hari ini cantik? berarti kemarin aku jelek...".

3. Prejudicial Language
    Kesesatan berpikir yang disebabkan oleh permainan berbagai macam istilah yang bermuatan emosional. Sekilas jenis ini mirip dengan Argumentum ad Misercordiam. familiar terdengar seperti ini "Laki-laki sejati adalah dia yang merokok dan minum alkohol." "Orang taat agama adalah mereka yang patuh pada perintah Kiai-nya".

4. Argumentum Ad Misercordiam
    Argumen yang dibangun berdasarkan perasaan belas kasihan, cinta, atau aspek sosial lainnya. Beberapa Contohnya "Sebaiknya kau tidak mengkritiknya. Mereka telah lelah bergadang tiap hari mengerjakan laporan tersebut". "Dia dibenarkan karena miskin dan tidak lagi memiliki keluarga yang mengurusnya".
Baca juga: Shortcut PowerPoint
5. Argumentum Ad Populum
    Terjadi karena sebuah argumen atau kesimpulan dianggap benar berdasarkan banyak orang yang menganggapnya benar. Frasa yang paling populer di telinga kita adalah "Suara mayoritas, suara kebenaran" atau "Banyak orang melakukannya". Contoh lainnya "Pria sukses adalah dia yang menjadi Polisi, Tentara atau Pelaut". Padahal, belum tentu sukses dan menjadi sukses, penyusunan kalimatnya juga bias, tidak ada parameter atau ukuran kesuksesan itu apa.

6. Hasty Generalization
    Kesimpulan yang diambil tergesa-gesa tanpa menghadirkan bukti atau sampel yang memadai. Bahasa sederhananya "terlalu gampang meng-generalisasi sesuatu". Contohnya "Semua cowok sama saja!" (Padahal ia hanya disakiti oleh empat orang pria). "Si Kipli dan empat orang temannya adalah preman dari Medan. Berarti orang Medan semuanya adalah preman".

7. Argumentum from Ignorance
    Sesat pikir yang terjadi di atas argumen yang menyatakan kalau sesuatu itu tidak terbukti benar, berarti salah, atau sebaliknya, kalau tidak terbukti salah, berarti benar. Padahal yang terjadi sebenarnya belum ada cukup bukti untuk menyatakan sesuatu itu salah atau benar. Contoh “Karena kau tidak dapat membuktikan adanya Tuhan, berarti Tuhan memang tidak ada".

8. False Dilemma
    Sesat pikir yang terjadi ketika hanya menghadirkan dua pilihan atau pertanyaan, padahal masih terbuka akan opsi lain, sehingga orang akan terjebak hanya pada pilihan yang tersedia. False Dilemma juga sering disebut sebagai argumen hitam putih atau “dikotomi palsu”. Contohnya “Karena kau tidak membalas perasaannya, berarti kau tidak suka dia”. Contoh lain “Karena kau selalu mengkritik Pemerintah, berarti kau adalah musuh pemerintah”. 
9. Argumentum Ad Baculum
       Kesesatan berpikir yang terjadi karena sebuah argumen dibangun dengan intervensi kekuasaan atau manipulasi ketakutan. Acapkali orang akan terjebak pada konsekuensi yang tidak menyenangkan kalau ia tidak setuju dengan argumen atau pernyataan yang dikemukakan. Contoh “Sebaiknya kamu mendukung Presiden 3 periode agar beasiswamu tidak dicabut".

10. Argumentum Ad Hominem
    Argumen yang disusun dengan menyerang aspek pribadi lawan bicara alih-alih berfokus pada argumennya. Jadi yang disoroti adalah karakter, motif, atau latar belakang si lawan bicara, bukan isi argumennya. Contohnya “Tidak usahlah kau nasehati saya hidup sehat, kalau kau sendiri sering mabuk".
    Belajar mengenali cara berpikir, bisa membuat kita mengevaluasi dan waspada terhadap kelemahan-kelemahan berpikir dan cacat logika. Akal pikiran adalah wujud dari manusia yang mudah tertipu dan menipu, tersesat dan menyesatkan dilakukan demi kepentingan pribadi maupun golongan. Buatlah argumen yang benar dan valid, sehingga mengandung kebenaran dalam penalaran. Jadikan kebenaran berpikir menjadi mode bertahan hidup, untuk mempermudah menjalani kehidupan.

Post a Comment

0 Comments